Tampilkan postingan dengan label science. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label science. Tampilkan semua postingan

Minggu, 27 April 2008

Ikan Purba Indonesia Dipamerkan di Jepang

(ivan / MI)
JAKARTA - MI

: -->
TOKYO--MI: Ikan purba Indonesia yang berusia 35 juta tahun dan dikenal dengan nama sebutan ‘Raja Laut’ atau Coelacanth, dipamerkan kepada publik Jepang di Aquamarine Fukushima, selama dua hari sejak Sabtu (12/4) lalu.
Menurut Direktur Eksekutif Aquamarina Fukushima, Yoshotaka Abe, pihaknya meminjam ikan yang berasal dari perairan di Teluk Manado, Sulawesi Utara, untuk melengkapi sementara koleksi yang ada dan memberikan pengetahuan kepada masyarakat Jepang mengenai kekayaan alam dan ikan di laut.
Selain itu, kata Abe, pameran mengenai ikan Raja Laut itu juga bertepatan dengan peringatan 50 tahun hubungan Indonesia Jepang, sehingga melalui pameran keilmuan dan rekreasi ini bisa diperkenalkan mengenai Indonesia dan kekayaan alamnya yang luar biasa.
"Ini tentu saja amat menarik masyarakat Jepang yang juga merupakan negara kelautan," katanya.

Pengunjung yang datang ke kompleks bernama resmi Fukushima Ocean Scientific Museum itu, terlihat antusias menyaksikan ikan purba yang berusia 35 juta tahun tersebut.
Meskipun tidak lagi dalam keadaan hidup, ikan dengan nama Latimeria menadoensis itu tetap banyak menarik minat orang sehingga berdesak-desakan hanya untuk menyaksikan jasad ikan purba yang amat langka tersebut.

Menurut Prof DR Kawilatang Masengi, Dekan Fakultas Perikanan dan Kelautan Universitas Sam Ratulangi Manado, upaya mendatangkan ikan Coelacanth merupakan kerja sama yang kesekian kalinya dengan pihak Jepang, khususnya Aquamarine Fukushima, yang juga memiliki banyak perhatian terhadap konservasi hewan langka dan juga menjadi pusat penelitian masalah kelautan.
"Kerja sama lainnya yang sudah dilakukan selama ini adalah untuk riset dan saat ini semakin dirasakan penting. Apalagi dengan terjadinya pemasanan global seperti sekarang ini," katanya.
Ia menambahkan bahwa Indonesia dan Jepang juga perlu bersama-sama meningkatkan kegiatan riset sehingga bisa memperkaya kegiatan konservasi kelautan kedua negara.

Aquarium Fukushima yang berlokasi di pusat kota Fukushima (sekitar 250 km utara Tokyo) itu juga ikut melestarikan spesies ikan langka dan tumbuhan langka lainnya. Selain sebagai museum dan tempat rekreasi, Aquamarine juga menjadi pusat riset kelautan di Jepang.

Ikan Coelacanth memiliki habitat di lautan dalam, 700 meter di bawah laut, namun kadang-kadang bisa berada di kedalam laut 200 meter. Ikan yang biasa hidup sekitar 360 juta tahun lalu itu rata-rata memiliki panjang1-2 meter dan berwarna biru. Ia ditemukan juga di sejumlah perairan dunia seperti di Komoro, Madagskar, Tanzania, dan Afrika Selatan.

Raja laut versi Indonesia ini juga tergolong sebagai spesies yang unik karena warna kulitnya bukanlah kebiruan, seperti umumnya ikan Coelacanth, melainkan berwarna coklat. (Ant/OL-2)

Tim Arkeolog Temukan Nisan Abad ke-13

Tim Arkeolog Temukan Nisan Abad ke-13


(ivan / MI)
JAKARTA - MI

: -->
MEDAN-MI: Tim arkeolog dari Pusat Penelitian dan Pengembangan Arkeologi Nasional (Arkenas) dan Tim Arkeolog Universitas Nasional Singapura menemukan sebuah nisan peninggalan abad ke-13 dalam sebuah penelitian di Desa Kota Rantang, Kecamatan Hamparan Perak, Kabupaten Deli Serdang, Sumut.

Arkeolog dari Arkenas, Prof Nani Wibisono, di Medan, Jumat, mengatakan, jika melihat dari bentuk dan coraknya, nisan tersebut diperkirakan berhubungan dengan Kerajaan Aru yang pernah berjaya pada abad ke-13 dan 14 di daerah itu.

Namun sayangnya nisan tersebut masih polos (tanpa tulisan, red) sehingga tidak diketahui secara pasti tahun pembuatan atau nama pemiliknya, ujarnya.

Dalam penelitian yang memakan waktu selama 10 hari itu, tim arkeolog juga menemukan pecahan keramik, tembikar, manik-manik, tulang hewan dan logam berbentuk paku, pin, kerak besi, serta pecahan ubukan (alat yang digunakan pandai besi) di tiga titik lokasi berbeda pada areal yang sama.

"Keramik maupun logam yang ditemukan itu umumnya dipakai masyarakat pada abad ke- 13 hingga 15," katanya.

Temuan ini menguatkan dugaan bahwa daerah itu dulunya pernah menjadi pusat industri logam dan penemuan itu juga hampir sama dengan temuan Kota China di sekitar Belawan pada tahun 1972.

Arkeolog dari Universitas Nasional Singapura, Edmund Edward McKinnon mengatakan, lokasi penelitian berada di koordinat 03.44.337 Utara dan 98.35.345 Timur berdasarkan Global Position Sistem (GPS), atau sekitar 40 kilometer sebelah barat kota Medan.

Ia menyebutkan, jika melihat dari hasil yang ditemukan di lokasi tersebut diperkirakan daerah itu merupakan permukiman padat dan banyak dikunjungi pendatang dari luar.

Daerah itu mencapai kejayaan pada abad ke-15 dan mulai mengalami kemunduran pada abad ke-17 seiring berpindahnya pusat ibukota Kerajaan Aru ke Deli Tua yang jaraknya lebih kurang 50 kilometer dari lokasi semula.

Pada kesempatan itu ia mengatakan timnya juga sempat melihat langsung lokasi situs Benteng Tanah Putri Hijau di Deli Tua yang kondisinya nyaris musnah.
"Sangat disayangkan situs itu sudah hampir rata dengan tanah akibat kurangnya perawatan maupun ulah oknum yang tidak mengerti betapa pentingnya merawat peninggalan sejarah itu," katanya. (Ant/OL-2)

Uvs Nuur Basin


The Uvs Nuur Basin sits on the northern edge of the Central Asian steppes, bounded on all sides by mountains. Though largely arid, the basin is dotted with water.


A large salt lake, the Uvs Nuur Lake, sits at the center of the basin, and several smaller lakes are scattered across the region. Rivers, the largest of which is the Tes-Khem, run from the surrounding mountains into the basin, but no rivers flow out of the basin.


This image shows one of the smaller lakes near the western edge of the basin.Since little rain falls in the basin, the most vibrant green in this image comes from the wetlands that surround rivers flowing into the small lake. A web of bright green lines the river that flows in from the west, culminating at a broad green delta. Other wetlands cluster around rivers on the northeast and southern sides of the lake. Possibly the most striking feature of this image, the wetlands are an important wildlife habitat. Streaks of white running across the desert are likely seasonal streams that flow when snow melts off the mountains in the spring.


Far from a moderating ocean, the Uvs Nuur Basin has an extreme climate with temperatures that swing from a low of -72 degrees Fahrenheit during the winter up to 104 degrees in the summer. Containing a number of ecosystems in its fresh and salt water lakes, deserts, mountains, grasslands, and forests, the basin provides an important habitat for a variety of animals ranging from the endangered snow leopard to the white-tailed sea eagle.


Because of its diversity and the relatively low amount of human impact on the area, the basin is a United Nations World Heritage Site.


Image Credit: NASA/GSFC/METI/ERSDAC/JAROS, and the U.S./Japan ASTER Science Team and Jesse Allen